P R O K L A M A S I
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan
Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l.,
diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang
sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.
Naskah di atas merupakan saksi
sejarah kebahagian bangsa Indonesia, karena ketika dibacakan naskah itu dari
bibir sang Proklamator, maka resmilah Negara Kesatuan Republik Indonesia
merdeka.
Yaaaaa Merdeka, kalimat sakral yang membakar semangat para
Pahlawan - pahlawan Republik Indonesia. Merdeka atau Mati itulah pilihan yang
di tawarkan, mengutip kalimat Thariq Bin Ziyad ketika Penaklukan Andalusia, Musuh
didepan mu dan laut dibelakang mu, pasti mereka memilih berjuang mati -
matian untuk mempertahankan hidup, dari pada mundur dan mati konyol, begitu
pula dengan pahlwan - pahlawan kita mereka berjuang sekuat tenaga demi,
kebahagian anak cucu mereka dimasa yang akan datang, mereka tidak ingin melihat
anak cucu mereka berjuang menggunakan senjata api, bambu runcing dll, tapi
mereka ingin melihat anak cucu mereka berjuang dengan senjata yaitu Pena....
beranjak dari perjuangan para
pahlawan, di tahun 2014 ini pertama kali bagi saya pribadi merayakan Hut RI
yang ke 69 di negri orang, ada kecemburuan tersendiri ketika melihat teman -
teman, keluarga dan seluruh warga negara Indonesia, yang bisa melaksanakan Upacara bendera, dan merayakan Hut RI dengan acara Marching Band, Pawai, perlombaan dll. Semua
kegiatan itu masih tersimpan rapi di memori otak ku tatkala aku ikut andil
dalam kegiatan itu. Kini di negeri 1001 malam ni aku harus apa? bagaimana aku
merayakannya?
3 hari sebelum Hut RI deringan
Handphone memecahkan kebingungan ku, aku mendapat telfon dari Pihak KBRI di
Baghdad, aku diminta hadir ke KBRI untuk mengikuti upacara peringatan Hut RI ke
69. Raga ini tak kuasa meluapkan kebahagiaan, yaa sebentar lagi aku akan
melihat bendara merah putih perlahan - lahan naik di tiang bendera, pikiranku
tertuju kemasa aku duduk di bangku MAN, ketika aku menjadi petugas pengibara
bendera. ketika semua rencana sudah tersusun rapi dan matang, kita bisa
mengatur rencana itu namun kita belum tentu menjalankan rencana itu, kita masih
memiliki Dzat yang maha mengatur, ternyata Dzat itu belum mengizinkan ku untuk
melihat Bendera Merah Putih naik perlahan di peristirahatannya.
Hari ini tepat 17 Agustus 2014, usia
negaraku genap 68 tahun, usia yang tidak begitu muda. aku hanya bisa
mengucapkan melalui situs jejaring sosial. terlintas ide baik di otakku,
bagaimana cara merayakan Hut Ri di negri Mesopotamia ini,
Okkkkk... hari ini aku kekampus
membawa bendera merah putih, bendera yang di ingatkan kk Oza yang harus kubawa
dan akhirnya ku beli di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Matahari 17 Agustus
terlihat indah dan menawan, hembusan angin gurun menerpa wajah suci ku, dengan
perasaan bangga ku genggam merah putih dan ku bawa kekampusku aku meminta
kepada mereka (Iraqi) yang lewat untuk berfoto dengan bendera merah putih dan
mereka pun senang terhadap tawaran ku, aku berfoto dengan pegawai asrama, tentara,
teman - teman kampus, anak kecil, dan dosen. aku merasakan kebahagian
tersendiri ketika aku merayakan Hut RI dengan caraku sendiri. mengutip dari
kalimat hikmah yang terdapat didalam buku Mahfuzhat terbitan dari Turos
من لم يقم لأداء واجبه نحو و طنه و دينه حذار من التعب او
الموت فليس بأهل لأن يعسش لأن الموت.
"Barang siapa yang tidak
memenuhi kewajiban terhadap negara dan agamanya karena takut letih atau mati,
maka ia tidak berhak untuk hidup karena kematian pasti akan datang tetapi jiwa
mulia tidak akan pernah mati"
kalimat itulah yang menjadi cambuk
bagi ku untuk terus mencitai negeriku, negeri yang telah memberikan sejuta
kenikmatan pada ku, negeri tempat aku pertama kali melihat dunia, negeri yang
telah mengajarkan ku arti keidupan, negeri yang telah menghantarkan ku kengeri Mesopotamia ini. Terimakasi negreriku,
suatu saat nanti akau akan membalas semu jasamu.
Indonesia aku mencintai mu.





.jpg)




.jpg)








