Kamis, 11 September 2014

Catatan Kecil



Kuliah di luar negri merupakan dambaan setiap Mahasiswa Indonesia, ada kesan tersendiri ketika kita mendapatkan kesempatan untuk belajar di negri yang bukan negri kita, kebangaan yang luar biasa pasti menyelimuti raga kita, pujian terus berdatangan dari mereka yang mengenali kita. mereka mengira semua itu indah untuk di jalani. Namun Siapa yang berani memberi jaminan kuliah di Luar Negri itu enak, menyenangkan, membahagiakan semua kata - kata indah itu tidak bisa mewakili kenyataan yang sebenarnya terjadi, harus merasakan beban mental, beban fisik, semua berubah begitu saja, jauh dari negri tercinta, jauh dari orang tersayang, jauh dari orang terdekat. terlebih ketika kita mendapat kesempatan Belajar di negeri yang kata orang negri itu sangat berbahaya dan bisa mengancam hidup, tapi semua ocehan mereka aku kubur dalam - dalam, aku buktikan kepada mereka bahwa negeri yang selama ini mereka takuti, negri yang selama ini jadi sorotan publik mata dunia, negeri yang selama ini menjadi banyak perdebatan dalam perihal aqidah, tidak seperti yang mereka bayangkan. mengutip kaliamat Ibnu Syauqi dan Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam Novel Ayat - Ayat cinta Karangan Kang Abik " Hidup adalah keyakinan dan perjuangan dan Perjuangan seorang Muslim sejati tidak akan berhenti sebelum kedua telapak kakinya menginjak pintu surga", kalimat itu bak lilin di kala kegelapan, yang menerangi setiap sudut hati ku. Banyak literatur yang mengisahkan tentang perjalanan menuntut ilmu di negri orang, asam manismya mereka lalui begitu saja sampai mereka mendapatkan cahaya itu, cahaya yang mereka gunakan untuk menerangi negeri mereka, cahaya yang menjadi penerang dikala gelap mencekam. kita bisa melihat beberapa tokoh dalam kehidupan nyata yang harus berjuang di negri orang demi melanjutkan studi dan melanjutkan hidup ketika beasiswa tidak bisa diandalkan. sebut saja Meutya Hafid seorang Legislator muda, siapa sangka di balik kesuksaan beliau, beliau pernah merasakan asam pahitnya hidup ketika kuliah di negeri orang. Pada awalnya aku mengira semua itu akan berjalan indah seindah lantunan kalam ilahi, tetapi itu semua bak fatamorgana sahara yang menipu para musafir. 

Bersambung....

2 komentar: